(Meneladani Nilai-Nilai Perjuangan Muhamad Hatta)
Oleh Eko Prasetyo.
Rasanya adalah hal yang sangat mustahil jika ada orang yang tak mengenal nama Bung Hatta. Akan tetapi dari sekian banyak orang yang mengenal Bung Hatta, tak sedikit dari mereka yang hanya kenal nama dan tak lebih dari itu. Mengenai bagaimana kepribadian dan kharakteristiknya, sepertinya masyarakat menganggap hal tersebut bukanlah hal yang menarik untuk digali lebih lanjut. Inilah kharakteristik masyarakat Indonesia yang sangat minim dalam penghargaannya terhadap pahlawan bangsa. Mereka menganggap dengan mengenal nama, asal daerah, kapan dilahirkan, dan kapan meninggalnya adalah perlakuan yang lebih dari cukup dalam memberikan penghargaan terhadap para pahlawan bangsanya. Seharusnya kita mengenal lebih dekat bagaimana kepribadian dan semangat juangnya, sehingga kita dapat mengambil contoh dari para pejuang bangsa.
Cermin Pribadi Bung Hatta
Ada banyak hal yang mungkin tidak kita ketahui dari kehidupan Bung Hatta. Padahal hal itulah yang seharusnya patut kita ketahui, sehingga bisa dipetik teladan darinya. Bung Hatta adalah pribadi yang disiplin, telaten, rapi, punya prinsip hidup yang kuat, pantang menyerah dan memiliki semangat juang yang sangat tinggi.
Kedisiplinan ini ditunjukkan pada budaya tepat waktu yang selalu beliau terapkan dalam kehidupan keseharianya, mulai dari hal yang kecil sampai pada hal yang besar. Di dalam keluarganya, kedisiplinan menjadi satu hal yang ditanamkan dengan kuat pada setiap anggota keluarganya. Bukti dari kedisiplinannya dalam menggunakan waktu adalah beliau selalu datang tepat waktu dalam setiap acara, baik acara kenegaraan maupun hal yang lainnya. Datang tepat waktu ke kantor adalah satu hal yang senantiasa dilakukannya. Bisa dipastikan setiap bunyi lonceng jam di Istana Wakil Presiden berbunyi, setiap kali itupula mobil dinasnya memasuki Istana Wakil Presiden. Beliau selalu datang tepat pukul 08.00, sebagai waktu jam kerja. Hal lain, walaupun beliau sedang dipengasingan, tepatnya di Boven Digul Irian Jaya, sekarang Papua, beliau selalu tepat waktu mengirimkan tulisannya sebulan dua kali pada surat kabar “Pemandangan” salah satu surat kabar di Jakarta pada era tahun 1930-an.
Download artikel ini selanjutnya disini
Oleh Eko Prasetyo.
Rasanya adalah hal yang sangat mustahil jika ada orang yang tak mengenal nama Bung Hatta. Akan tetapi dari sekian banyak orang yang mengenal Bung Hatta, tak sedikit dari mereka yang hanya kenal nama dan tak lebih dari itu. Mengenai bagaimana kepribadian dan kharakteristiknya, sepertinya masyarakat menganggap hal tersebut bukanlah hal yang menarik untuk digali lebih lanjut. Inilah kharakteristik masyarakat Indonesia yang sangat minim dalam penghargaannya terhadap pahlawan bangsa. Mereka menganggap dengan mengenal nama, asal daerah, kapan dilahirkan, dan kapan meninggalnya adalah perlakuan yang lebih dari cukup dalam memberikan penghargaan terhadap para pahlawan bangsanya. Seharusnya kita mengenal lebih dekat bagaimana kepribadian dan semangat juangnya, sehingga kita dapat mengambil contoh dari para pejuang bangsa.
Cermin Pribadi Bung Hatta
Ada banyak hal yang mungkin tidak kita ketahui dari kehidupan Bung Hatta. Padahal hal itulah yang seharusnya patut kita ketahui, sehingga bisa dipetik teladan darinya. Bung Hatta adalah pribadi yang disiplin, telaten, rapi, punya prinsip hidup yang kuat, pantang menyerah dan memiliki semangat juang yang sangat tinggi.
Kedisiplinan ini ditunjukkan pada budaya tepat waktu yang selalu beliau terapkan dalam kehidupan keseharianya, mulai dari hal yang kecil sampai pada hal yang besar. Di dalam keluarganya, kedisiplinan menjadi satu hal yang ditanamkan dengan kuat pada setiap anggota keluarganya. Bukti dari kedisiplinannya dalam menggunakan waktu adalah beliau selalu datang tepat waktu dalam setiap acara, baik acara kenegaraan maupun hal yang lainnya. Datang tepat waktu ke kantor adalah satu hal yang senantiasa dilakukannya. Bisa dipastikan setiap bunyi lonceng jam di Istana Wakil Presiden berbunyi, setiap kali itupula mobil dinasnya memasuki Istana Wakil Presiden. Beliau selalu datang tepat pukul 08.00, sebagai waktu jam kerja. Hal lain, walaupun beliau sedang dipengasingan, tepatnya di Boven Digul Irian Jaya, sekarang Papua, beliau selalu tepat waktu mengirimkan tulisannya sebulan dua kali pada surat kabar “Pemandangan” salah satu surat kabar di Jakarta pada era tahun 1930-an.
Download artikel ini selanjutnya disini
0 comments:
Posting Komentar