Oleh : Eko Prasetyo, S.Pd
SMP Muhamadiyah 3 Banyuwangi
Setiap kali aku lewat tempat itu aku selalu ingin bergegas melewatinya, biasanya aku selalu melangkah lebih cepat dan terkesan tergesa - gesa. Kalaupun ada jalan lain pasti aku akan memilih untuk lewat jalan yang lain, tapi sayang, hanya jalan itulah yang ada di desaku. Tak hanya aku yang selalu merasa risih setiap kali aku lewat jalan itu, hampir semua warga juga merasakan hal yang sama.
“Baru datang Ir?” sapa seorang bapak yang sudah gak asing lagi bagiku, tapi aku tak tahu entah dari mana dia tiba-tiba hadir disampingku. ”Iya Wak, tadi ada sedikit tambahan pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor Wak,” jawabku dengan tersenyum manis pada Wak Umar, begitulah biasa aku memanggil bapak setengah baya yng sekarang sedang berjalan bareng denganku. ”Gak takut jalan sendirian lewat tikungan jalan tadi Ir?” tanya Wak Umar padaku. ”Sebenarnya agak takut sih Wak, tapi gimana lagi?” jawabku singkat. “Jangankan menjelang magrib kayak gini, siang hari pun suruh lewat sendirian uwak juga agak ngeri,” lanjut Wak Umar. Aku hanya diam, sambil mbayangin alur jalan yang dimaksud sama Wak Umar tadi. Di jalan yang dimaksud tadi ada sebuah gudang yang usianya sudah cukup tua. Sebelah timurnya gudang ada sebuah tikungan dengan dua pohon yang sangat rimbun dan besar di kanan dan kirinya, setelah tikungan ada sungai dengan aliran air yang cukup deras dan besar. “Wak Umar juga baru pulang dari sawah ya?” aku berbalik nanya pasa Uwak Umar. “Iya Ir,” jawabnya singkat. Kami berdua terus ngobrol sampai ahirnya kita pisah di perempatan jalan. “Wak, saya duluan ya….,” ucap ku sambil berjalan ke arah kiri, sementara Wak Umar jalan lurus. “ya Ir, salam buat ibu ya…” jawab Wak Umar dengan ramah.
Belum ada lima menit aku berjalan, aku sudah sampai di rumah. Di depan rumah tampak ibu dan kedua adikku menungguku sambil duduk di teras rumah. “Assalamu’alaikum….,” sapaku pada mereka. “Wa’alaikum salam….,” sahut merka serentak. Aku segera mencium tangan ibuku, kemudian kedua adikku bergantian mencium tanganku. “Pulangnya kok agak telat Ir?” tanya ibuku. “Iya Buk, tadi di kantor banyak kerjaan Bu,” jawabku sambil masuk ke dalam rumah, sementara ibu dan kedua adikku juga segera masuk ke rumah.
Kalo mau baca cerita cerpen ini download disini
SMP Muhamadiyah 3 Banyuwangi
Setiap kali aku lewat tempat itu aku selalu ingin bergegas melewatinya, biasanya aku selalu melangkah lebih cepat dan terkesan tergesa - gesa. Kalaupun ada jalan lain pasti aku akan memilih untuk lewat jalan yang lain, tapi sayang, hanya jalan itulah yang ada di desaku. Tak hanya aku yang selalu merasa risih setiap kali aku lewat jalan itu, hampir semua warga juga merasakan hal yang sama.
“Baru datang Ir?” sapa seorang bapak yang sudah gak asing lagi bagiku, tapi aku tak tahu entah dari mana dia tiba-tiba hadir disampingku. ”Iya Wak, tadi ada sedikit tambahan pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor Wak,” jawabku dengan tersenyum manis pada Wak Umar, begitulah biasa aku memanggil bapak setengah baya yng sekarang sedang berjalan bareng denganku. ”Gak takut jalan sendirian lewat tikungan jalan tadi Ir?” tanya Wak Umar padaku. ”Sebenarnya agak takut sih Wak, tapi gimana lagi?” jawabku singkat. “Jangankan menjelang magrib kayak gini, siang hari pun suruh lewat sendirian uwak juga agak ngeri,” lanjut Wak Umar. Aku hanya diam, sambil mbayangin alur jalan yang dimaksud sama Wak Umar tadi. Di jalan yang dimaksud tadi ada sebuah gudang yang usianya sudah cukup tua. Sebelah timurnya gudang ada sebuah tikungan dengan dua pohon yang sangat rimbun dan besar di kanan dan kirinya, setelah tikungan ada sungai dengan aliran air yang cukup deras dan besar. “Wak Umar juga baru pulang dari sawah ya?” aku berbalik nanya pasa Uwak Umar. “Iya Ir,” jawabnya singkat. Kami berdua terus ngobrol sampai ahirnya kita pisah di perempatan jalan. “Wak, saya duluan ya….,” ucap ku sambil berjalan ke arah kiri, sementara Wak Umar jalan lurus. “ya Ir, salam buat ibu ya…” jawab Wak Umar dengan ramah.
Belum ada lima menit aku berjalan, aku sudah sampai di rumah. Di depan rumah tampak ibu dan kedua adikku menungguku sambil duduk di teras rumah. “Assalamu’alaikum….,” sapaku pada mereka. “Wa’alaikum salam….,” sahut merka serentak. Aku segera mencium tangan ibuku, kemudian kedua adikku bergantian mencium tanganku. “Pulangnya kok agak telat Ir?” tanya ibuku. “Iya Buk, tadi di kantor banyak kerjaan Bu,” jawabku sambil masuk ke dalam rumah, sementara ibu dan kedua adikku juga segera masuk ke rumah.
Kalo mau baca cerita cerpen ini download disini
0 comments:
Posting Komentar